UEFA: Tenggat Liga Champions 3 Agustus Tidak Benar

Seperti kompetisi sepak bola domestik, Liga Champions Eropa dan Liga Europa pun bernasib sama. Sama-sama ditangguhkan untuk sementara. Liga Champions hanya sempat bergulir hingga babak 16 besar. Sementara Liga Europa baru memasuki babak 32 besar. Kedua kompetisi itu pun belum benar-benar menuntaskan babak-babak tersebut.

Kini berhembus kabar terkait kelanjutan kedua kompetisi itu. Ada rumor yang menyebutkan Federasi Sepak Bola Eropa (UEFA) telah mengeluarkan keputusan terkait tenggat waktu pelaksanaan kedua kompetisi itu yakni hingga 3 Agustus 2020.

Namun demikian kabar ini lantas dibantah oleh otoritas tertinggi di sepak bola Eropa itu. “Telah dilaporkan bahwa Presiden UEFA, Aleksander Ceferin, mengatakan kepada ZDF di Jerman bahwa Liga Champions UEFA harus selesai pada 3 Agustus. Ini tidak benar. Sudah sangat jelas, Presiden tidak menentukan tanggal yang tepat untuk mengakhiri musim,” ungkap pihak UEFA.

Lebih lanjut pihak UEFA mengatakan saat ini pihaknya masih menganalisis semua pilihan bagaimana untuk mengakhiri musim ini. Saat ini UEFA intensif berkomunikasi dengan asosiasi klub Eropa dan liga-liga Eropa terkait hal ini. Namun demikian UEFA mengatakan yang terpenting saat ini bukan sepak bola tetapi kesehatan masyarakat.

“UEFA saat ini sedang menganalisis semua opsi untuk menyelesaikan musim domestik dan Eropa, bersama Asosiasi Klub Eropa dan liga-liga di Eropa dalam tim yang dibuat pada 17 Maret. Prioritas utama semua anggota tim adalah menjaga kesehatan masyarakat,” lanjut UEFA.

Saat ini pihaknya dan para pihak terkait sedang mencari solusi kalander agar semua kompetisi bisa dituntaskan. Salah satu opsi yang sedang ditawarkan adalah pelaksaan kompetisi itu pada Juli dan Agustus.

“Sebagai tindak lanjutnya adalah mencari solusi kalender untuk menyelesaikan semua kompetisi. Opsi yang saat ini sedang dipelajari adalah memainkan pertandingan pada Juli dan Agustus jika diperlukan, tergantung pada tanggal memulai ulang kegiatan dan mendapat izin dari otoritas nasional,” sambung UEFA.

Pihak UEFA optimistis badai corona akan berakhir. Sementara itu kompetisi-kompetisi bisa bergulir lagi. Hal yang terjadi sementara ini dengan kompetisi-kompetisi domestik diambil secara mendadak.

“Kami yakin bahwa sepakbola dapat dimulai kembali di bulan-bulan mendatang, dengan kondisi yang akan ditentukan otoritas publik, dan yakin setiap keputusan untuk menghentikan kompetisi domestik, pada tahap ini, prematur dan tidak dibenarkan,” pungkas UEFA.

Ada yang menganjurkan agar kompetisi ini berlanjut di bulan-bulan tersebut dengan pertandingan final digelar pada akhir tahun. Ini merupakan anjuran dari mantan pemain Real Madrid, Iker Casillas. Opsi mana yang akhirnya dipilih? Kita tunggu saja.

‘Final Liga Champions di Bulan Desember’

Saat ini dunia sepak bola sedang terhenti. Tak ada satu pun kompetisi sepak bola yang masih bergulir. Publik pun bertanya-tanya sampai kapan kompetisi itu akan terhenti. Sementara itu wabah corona masih menjadi keprihatinan bersama.

Di tengah situasi serba tak pasti ini muncul banyak spekulasi terkait nasib kompetisi-kompetisi tersebut. Ada juga yang memberikan usulan terkait kelanjutannya. Mantan kiper Real Madrid, Iker Casillas pun memberikan saran, terutama terkait kelanjutan Liga Europa dan Liga Champions musim ini.

Sebagaimana diketahui saat ini Liga Europa dan Liga Champions terhenti. Liga Europa belum menyelesaikan babak 32 besar saat corona merebak. Sementara itu Liga Champions belum juga menuntaskan babak 16 besar.

Menurut Casillas ada baiknya kedua kompetisi itu melakukan penyesuaian. Ia bahkan menawarkan agar pertandingan final kedua turnamen tersebut digelar pada akhir tahun.

“Bagaimana kita menemukan solusi untuk sepakbola Eropa? Membatalkan musim? Menggelar kompetisi di satu tahun kalender?” ungkap Casillas di jejaring sosial twitter-nya.

Ia menganjurkan hal ini dengan perhitungan kompetisi bisa kembali bergulir dalam empat bulan ke depan. Selanjutnya kompetisi tersebut kembali bergulir untuk memainkan sisa pertandingan hingga laga pamungkas pada akhir tahun nanti.

“Artinya, kalau segalanya membaik lagi dalam tiga atau empat bulan, mainkan sisa musim, dengan kompetisi piala, final Liga Champions dan Liga Europa di bulan Desember,” sambungnya.

Tidak hanya itu ia juga menganjurkan terkait perubahan waktu Piala Dunia 2022. Menurutnya terkait perubahan yang ada, perhelatan akbar empat tahunan itu baiknya digelar pada November 2022 mendatang.

“Piala Dunia berikutnya adalah pada November 2022. Penyesuaian,” tegasnya.

Saat ini pihak Federasi Sepak Bola Eropa (UEFA) belum menginformasikan terkait kelanjutan dua kompetisi tersebut. Sempat beredar kabar bahwa UEFA memberikan batas waktu untuk penyelenggaraan kedua turnamen tersebut hingga 3 Agustus 2020. Namun demikian pihak UEFA pun lantas membantah kabar tersebut.

“Telah dilaporkan bahwa Presiden UEFA, Aleksander Ceferin, mengatakan kepada ZDF di Jerman bahwa Liga Champions UEFA harus selesai pada 3 Agustus. Ini tidak benar. Sudah sangat jelas, Presiden tidak menentukan tanggal yang tepat untuk mengakhiri musim,” ungkap pihak UEFA mengklarifikasi kabar tersebut.

“UEFA saat ini sedang menganalisis semua opsi untuk menyelesaikan musim domestik dan Eropa, bersama Asosiasi Klub Eropa dan liga-liga di Eropa dalam tim yang dibuat pada 17 Maret. Prioritas utama semua anggota tim adalah menjaga kesehatan masyarakat,” sambung pihak UEFA.

Van Gaal Sindir Klub Ambil Untung dari Wabah Corona

Saat ini warga dunia sedang menghadapi wabah corona atau Covid-19. Hal ini membuat sendi-sendi kehidupan lumpuh. Tidak terkecuali dunia olahraga. Kompetisi-kompetisi sepak bola sementara ini dihentikan.

Meski begitu muncul tudingan terhadap klub yang disebut mencari keuntungan di tengah pandemi corona ini. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh mantan pelatih timnas Belanda, Louis van Gaal. Pria asal Belanda itu menuding ada klub yang menggunakan situasi krisis ini untuk mendapatkan keuntungan. Meski begitu Van Gaal tak menyebutkan klub yang dimaksud.

“Ada klub yang menyalahgunakan krisis virus Corona untuk keuntungan mereka sendiri lalu membuatnya sebagai pernyataan untuk kesehatan masyarakat,” beber Van Gaal.

Lebih lanjut ia mengatakan dalam situasi seperti ini banyak dugaan dan spekulasi bermunculan. Termasuk juga bagaimaan kelanjutan kompetisi-kompetisi yang sudah berjalan bahkan sudah separuh jalan.

“Ada ban Syak waktu hingga musim panas ini karena Piala Eropa sudah ditunda. Dan andai UEFA dan FIFA mempunyai kehendak baik untuk mengubah peraturan dari menawarkan ruang:, well, lantas akan mulai,”sambungnya.

Di tengah terhentinya kompetisi, ada klub yang mengambil kebijakan untuk memangkas gaji pemain. Namun sebaliknya ada pula klub yang tak mengambil kebijakan tersebut. Salah satunya adalah Tottenham Hotspur.

Ternyata situasi ini membuat geram The Tottenham Hotspur Supporters Trust (THST) atau kelompok suporter fan Spurs. Menurut mereka bila pihak klub tidak mengambil kebijakan pemotongan gaji, mereka khawatir akan berdampak pada keuangan klub.

“Kemarahan kami adalah beberapa staff sudah dipotong gajinya oleh klub, tapi para pemainnya belum. Kami semua hanya ingin yang terbaik untuk klub ini,” ungkap pihak THST.

Lebih lanjut pihak tersebut mengatakan gaji pemain adalah salah satu sumber pengeluaran terbesar. Untuk itu mereka berharap klub segera mengambil keputusan pemotongan gaji agar keuangan klub terselamatkan.

“Gaji pemain adalah beban yang besar untuk klub. Kami meminta klub untuk memotong gaji para pemain,” sambung pernyataan itu.

Sikap yang dilakukan Spurs tak bisa disalahkan. Pasalnya hingga kini belum ada kesepakatan akhir antara Asosiasi Pemain Profesional Inggris (PFA) dengan klub-klub Inggris.

“Berlawanan dengan yang diberitakan media bahwa PFA tidak pernah meminta para pemain menolak pemotongan gaji. Apa yang masih kami bicarakan saat ini adalah mencari metode yang terstruktur dan padu agar semua klub mendapat keadilan,” beber pernyataan resmi PFA.

Lebih lanjut pihak PFA mengatakan sejumlah pihak sudah melakukan komunikasi dengan mereka untuk menghindari pemotongan gaji yang tidak adil.

Jadwal Timnas Indonesia Mundur Gara-gara Corona, Baik untuk Shin Tae-yong

Saat ini hampir semua agenda olahraga terhenti. Hal ini disebabkan oleh wabah corona atau Covid-19 yang menyerang hampir semua negara di dunia. Tak terkecuali di tanah air. Selain terhentinya kompetisi domestik yakni Liga 1 dan Liga 2, agenda tim nasional Indonesia pun terpengaruh.

Salah satunya adalah Kualifikasi Piala Dunia 2022 zona Asia. Timnas Indonesia dijadwalkan akan menghadapi Thailand pada 26 Maret 2020. Namun rencana tersebut urung terlaksana karena wabah corona yang kian mengkhawatirkan. Tidak hanya agenda tersebut, jadwal Liga Champions Asia, hingga Piala AFC pun terdampak.

Mundurnya jadwal ini tidak semata-mata membawa kerugian. Menurut Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan, pengunduran tersebut juga membawa keuntungan. Saat ini pelatih timnas Indonesia, Shina Tae-yong terus beradaptasi dengan tim. Mundurnya jadwal pertandingan itu dinilai bagus karena memberikan waktu lebih bagi pelatih asal Korea Selatan itu untuk mengenal para pemain.

“Saya pikir jelas lah. Beliau akan melihat perbandingan liga 1 seluruh kota untuk melihat pemain-pemain yang diambil nanti. Alhamdullilah ada penundaan satu sisi akan menjadi keuntungan Shin Tae Yong jadi fokus kepada pemain yang dipanggil Timnas,” beber Iriawan.

Lebih lanjut Iriawan mengatakan dirinya sudah berdiskusi dengan Shin terkait perubahan tersebut. Tidak hanya itu ia juga berdiskusi dengan pelatih anyar tersebut terkait kondisi para pemain Indonesia.

“Kemarin saya diskusi dengan Shin hampir tiga jam membahas pembatalan itu, termasuk perkembangan, tipikal, termasuk mental pemain, fisik pemain, dsb,” sambugnya.

Dari hasil pembicaraan itu, Irawan mengakui pelatih tersebut optimis dengan masa depan sepak bola Indonesia. Meski tidak mudah, ia memohon dukungan dari PSSI agar dirinya bisa bekerja maksimal untuk membangun sepak bola Indonesia.

“Beliau optimistis tapi tidak mudah seperti membalikkan tangan. Kemudian beliau meminta betul dukungan penuh PSSI,” bebernya.

Sebelumnya pelatih anyar tersebut sudah mendampingi timnas di beberapa kategori umur untuk menjalani laga internasional. Salah satunya mendampingi timnas U-19 dalam sejumlah uji coba di luar negeri.

“Kalau dilihat skornya, memang banyak kebobolan. Tapi, dalam kondisi pemain letih, baru selesai liga, seharusnya malah kebobolannya bisa lebih banyak lagi,” evaluasi Ta-yong usai laga-laga uji coba itu.

Salah satu yang menjadi catatan pelatih adalah fisik para pemain. Ia menilai para pemain mudah lelah karena fisik tak kuat. Ketahanan fisik para pemain Indonesia hanya mampu bertahan selama 20 menit pertama.

Tedampak Corona, Gaji Shin Tae-yong Bakal Dipangkas

Dampak pandemi Corona atau Covid-19 tidak bisa dipandang remeh. Dunia seakan lumpuh, tak bergerak akibat serangan wabah tersebut. Hampir semua sendi kehidupan manusia terdampak. Tidak terkecuali dunia olahraga.

Hampir semua agenda olahraga terhenti. Liga-liga sepak bola di Eropa dan di negara-negara lain pun ditangguhkan. Tidak terkecuali Liga 1 dan Liga 2 di tanah air.

Tidak sampai di situ, akibat terhentinya kompetisi manajemn klub dan tim pun harus mengambil langkah strategis. Salah satunya adalah memangkas gaji agar menjaga kondisi keuangan klub. Hal ini seperti yang sedang dilakukan sejumlah klub La Liga Spanyol seperti Barcelona dan Atletico Madrid.

Ternyata situasi tak jauh berbeda terjadi di tanah air. Beberapa klub sudah menerapkan kebijakan serupa. Tidak sampai di situ, pelatih tim nasional Indonesia pun harus mengalami hal yang sama.

Kabarnya, gaji pelatih timnas Indonesia, Shin Tae-yong bakal dipangkas. Tidak hanya pelatih asal Korea Selatan ini, sejumlah pihak terkait lainnya juga bakal terdampak hal yang sama.

Kabar ini dihembuskan oleh Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan. Orang nomor satu di sepak bola Indonesia itu sedang mempertimbangkan rencana tersebut. Ia beralasan hal ini ditempuh untuk menjaga kesehatan keuangan PSSI.

“Saat ini kami sedang mengkaji penerapan gaji para staf pelatih Timnas Indonesia. Baik itu Timnas senior maupun kelompok umur,” beber Iriawan.

Tersebab wabah tersebut agenda tim nasional dan kelompok umur pun terdampak. Saat ini praktis tidak ada aktivitas terkait sepak bola di tim nasional Indonesia.

“Karena Timnas Indonesia tidak berkegiatan imbas keadaan luar biasa ini. Maka kemungkinan besar akan ada penyesuaian terhadap gaji mereka,” sambungnya.

Sejauh ini untuk gaji bulan Maret belum mengalami perubahan. Dengan kata lain pelatih dan staf pelatih masih mendapatkan gaji penuh. Hal ini seperti diinformasikan asisten timnas, Nova Arianto.

Lebih lanjut terkait kemungkinan pemangkasan itu, Nova mengaku siap menerimanya. Ia memahami situasi yang sedang terjadi.

“Kami masih menerima penuh gaji bulan Maret. Tapi kami belum menerima kabar bahwa akan ada pemotongan gaji untuk staf dan pemain,” beber Nova.

Lebih lanjut mantan pemain timnas Indonesia itu mengatakan pihaknya siap menerima apapun keputusan terbaik dari PSSI.

“Kalaupun ada kami siap menerima apapun keputusan yang dibuat oleh PSSI,” ungkapnya lagi.

Saat ini kasus corona di tanah air terus meningkat. Jumlah penderita hingga korban meninggal terus berjatuhan. Kita tentu berharap bisa segera melewati masa-masa sulit ini.

Duet Henderson dan De Bruyne Akan Luar Biasa untuk Liverpool

Saat ini Liga Primer Inggris memiliki sejumlah gelandang hebat. Liverpool memiliki Jordan Henderson. Sementara Manchester City memiliki Kevin De Bruyne. Nah, bagaimana bila kedua pemain itu berada di klub yang sama?

Tentu hal ini akan luar biasa. Melihat dua gelandang terbaik di dunia berada dalam tim yang sama akan menjadi tontonan menarik. Hal inilah yang coba dibayangkan oleh Jamie Redknapp. Mantan pesepakbola yang kini menjadi pundit itu menilai Liverpool akan menjadi klub yang lebih kuat andaisaja De Bruyne bisa bertandem dengan Henderson.

Kedua pemain ini dinilai memiliki kemampuan tersendiri. De Bruyne merupakan seorang pelayan yang baik, sementara itu Henderson merupakan sosok pekerja keras untuk mengawal lini tengah.

“Kevin De Bruyne begitu menakjubkan untuk memberikan assist, sedangkan Jordan Henderson melakukan pekerjaan hebat di lini tengah. Kalau mereka saling main bareng, wow,” beber Jamie Redknapp.

Lebih lanjut mantan pemain timnas Inggris itu mengakui kemampuan De Bruyne dalam memberikan assist kepada para pemain lain. De Bruyne pun sudah membuktikan dirinya sejauh ini hingga digelari sebagai raja assist di Liga Primer Inggris.

“Dia bisa menguasai bola dengan tenang, lalu membaca pergerakan lawan. Dia bisa mengoper di sela-sela bek dan punya visi yang fenomenal, itulah yang membedakan dia dengan gelandang lain,” aku Jamie Redknapp.

Sementara itu Henderson di mata Jamie Redknapp sebagai sosok yang mampu tampil sebagai pemimpin. Selain itu pemain internasional Inggris itu mampu menjaga keseimbangan di lini tengah. Saking pentingnya Henderson, ia sampai disebut sebagai nyawa bagi Liverpool.

“Henderson sungguh seorang pemimpin dan bisa memotivasi tim. Dia adalah nyawanya Liverpool,” ungkapnya lagi.

Andaisaja De Bruyne mampu bertandem dengan Henderson maka jelas Liverpool akan menjadi klub yang kian disegani. De Bruyne akan memanjakan trisula maut di lini depan yakni Roberto Firmino, Sadio Mane, dan Mohamad Salah. Tanpa De Bruyne ketiga pemain itu sudah begitu menakutkan, bagaimana bila di belakang mereka ada Kevin De Bruyne?

Tentu tidak mudah bagi Liverpool untuk mendapatkan tanda tangan pemain asal Belgia itu. Saat ini De Bruyne menjadi salah satu pemain kunci tim besutan pelatih Pep Guardiola. Kehadiran De Bruyne masih menjadi penting sebagai pelayan untuk sejumlah pemain depan hebat di tim tersebut seperti Sergio Aguero, Raheem Sterling, hingga Gabriel Jesus.

De Bruyne Menyesal City Lepas Pemain Ini

Keputusan Manchester City untuk melepas Jadon Sancho ternyata mengundang kekecewaan dari para pemain The Citizen. Salah satunya adalah gelandang Kevin De Bruyne. Pemain internasional Belgia itu menyayangkan keputusan klub melepas pemain 20 tahun yang kemudian menjadi incaran klub-klub besar lainnya termasuk tetangga berisiknya, Manchester United.

Sancho tercatat pernah menghuni skuad The Citizen selama dua musim sejak 2015 hingga 2017. Namun ia sulit bersaing dengan para pemain bintang lainnya sehingga ia lebih memilih hengkang ke Bundesliga. Borussia Dortmund pun menjadi pelabuhan barunya.

Ternyata kepindahannya ke Jerman pada 2017 menjadi titik balik. Ia pun berkembang menjadi salah satu pemain sayap berbahaya di Bundesliga Jerman. Kini banyak klub mengincar untuk mendapatkan tanda tangannya. Hal ini membuat De Bruyne menyesali keputusan Manchester Biru melepas pemain tersebut beberapa tahun silam.

“Dia menggila. Hal yang aneh, saya berlatih beberapa kali dengannya dan dia hengkang. Ini sulit dipercaya,” beber De Bruyne.

Meski begitu, De Bruyne tetap mendukung keputusan tersebut. Ia bahkan menilai kepergiannya dari Etihad Stadium sebagai sesuatu yang baik untuk kariernya.

“Kadang sesuatu seperti ini harus terjadi. Namun ini baik untuknya,” ungkap De Bruyne.

Dalam beberapa waktu terakhir nama Sancho sering dikaitkan dengan Manchester Merah. Namun tidak mudah bagi Setan Merah untuk mendapatkan Sancho. Pasalnya pihak Die Borussien memagari pemain tersebut dengan harga tinggi. Tak kurang dari 100 juta pounds dipatok untuk pemain tersebut.

Terkait masa depan Sancho, termasuk peluangnya untuk bergabung dengan rival sekota, De Bruyne tak ambil pusing. De Bruyne mengatakan bila ingin mendapatkan jasanya klub manapun harus siap merogoh kocek dalam-dalam.  Ia pun tak ambil pusing ke mana Sancho akan berlabuh.

“Sekarang jika, kamu menginginkannya kamu harus membayar. Aku tidak ingin tahu (dia mau kemana)!” tegasnya.

Kira-kira klub mana yang lebih cocok untuk Sancho? Apakah pemain itu akan benar-benar mendarat di Stadion Old Trafford yang merupakan kandang Manchester United? Kita lihat saja.

 

Winger Chelsea Buka-bukaan Awal Mula Terserang Corona

Tidak ada yang menyangka Callum Hudson-Odoi bisa terserang virus Corona atau Covid-19. Namun pemain muda Chelsea itu harus berjuang melewati masa-masa sulit untuk menyembuhkan diri dari serangan virus tersebut.

Pengalaman ini kemudian dibagikan pemain berusia 19 tahun itu setelah dirinya dinyatakan sembuh sepenuhnya. Menurut Hudson-Odoi dirinya sudah benar-benar sembuh setelah menjadi pemain pertama di Liga Primer Inggris yang terserang virus tersebut. Kejadian itu terjadi pada 13 Maret 2020 lalu.

“Saya merasa sempurna. Saya kena virus, yang sekarang sudah sembuh. Saya merasa sangat baik, bugar, jadi saya merasa kembali seperti semula dan semuanya baik-baik saja,” beber Hudson-Odoi saat wawancara dengan Chelsea TV.

Ia tak lupa menceritakan awal mula terserang virus yang muncul pertama kali di Wuhan, China itu. Mula-mula ia merasa saja ada perubahan dalam dirinya. Ia sempat tak merasakan apa-apa setelah mengalami panas.

“Saya mengalaminya (rasa sakit) tiga pekan lalu dan sekarang saya pikir, pada hari ketika saya merasa badan ini panas lalu saya berpikir, ‘ini tidak seperti biasanya, mengapa saya merasa sepanas ini?'” bebernya.

“Keesokan harinya saya merasa kembali normal. Saya kira itu hanya masalah kecil tentang suhu badan, tapi ternyata bukan. Saya berkata pada diri sendiri bahwa ini sebenarnya tidak seburuk itu, gejalanya, dan saya berkata lagi, ‘Saya merasa baik-baik saja, saya merasa lebih baik,” sambungnya.

Hudson-Odoi mengatakan kejadian itu terjadi begitu cepat. Ia tak menyangka kejadian itu akan menimbulkan kehebohan, bahkan karena virus ini dunia pun menjadi gempar.

“Semuanya terjadi begitu cepat dan saya tidak tahu virus ini akan menjadi suatu hal yang begitu besar dan bahkan di seluruh dunia hingga mempengaruhi banyak orang,” ungkapnya.

Pemain masa depan Inggris itu pun mengingatkan semua orang untuk berhati-hati. Ia pun berharap pandemi corona segera berakhir sehingga semua orang bisa beraktivitas kembali seperti sedia kala.

“Semua orang harus berhati-hati dan mempertimbangkan bagaimana mereka bepergian dan semoga virus ini segera hilang dan semuanya akan kembali normal,” harapnya.

Sementara itu kesembuhan Hudson-Odoi mendapat respon positif dari pelatih Chelsea, Frank Lampard. Pihaknya pun terus mengingatkan para pemain lainnya untuk mengantisipasi dan mencegah agar tak sampai terserang virus tersebut.

Saat ini Liga Primer Inggris dihentikan. Bahkan penangguhan kompetisi itu diperkiraan akan terjadi hingga akhir April ini.

“Kini kami fokus tindakan pencegahan untuk anggota tim lainnya. Para pemain pun tetap menjaga kebugaran di rumah masing-masing,” beber Lampard.

Callum Hudson-Odoi Pulih dari Virus Corona

Salah satu pemain Chelsea yang terkena virus corona atau Covid-19 akhirnya sembuh. Ya dia adalah Callum Hudson-Odoi. Kabar gembira ini berhembus saat dunia sedang berperang menghadapi virus yang mula-mula muncul di Wuhan, China itu.

Sosok yang berposisi sebagai pemain sayap itu pun menceritakan banyak hal. Saat pertama kali positif corona, Hudson-Odoi mengaku mendapat banyak perhatian, terutama dari rekan-rekan setim.

“Saat pertama kali kena virusnya, teman-teman setim langsung mengabari saya via WhatsApp. Mereka memberi perhatian dan saya rasa dukungan dari mereka sangat penting dan berharga untuk kesembuhan saya,” beber Hudson-Odoi.

Lebih lanjut, Hudson-Odoi mengatakan kesembuhannya itu tidak lepas dari kerja keras dan kerja cepat tim medis. Pertama kali mengidap Corona pada 13 Maret 2020, tim medis langsung sigap memberikan pertolongan kepadanya. Ia pun langsung segera diisolasi atau dikarantina.

“Seluruh tim mendoakan saya untuk cepat sembuh. Suatu bentuk tim yang solid dan kompak,” sambungnya.

Pemain yang baru berusia 19 tahun itu pun menceritakan awal mula dirinya terserang Corona. Ia merasakan ada hal aneh yang terjadi dengan dirinya. Ia sempat merasa sakit dan badanya terasa sangat panas.

“Saya mengalaminya (rasa sakit) tiga pekan lalu dan sekarang saya pikir, pada hari ketika saya merasa badan ini panas lalu saya berpikir, ‘ini tidak seperti biasanya, mengapa saya merasa sepanas ini?'” bebernya.

Kondisinya sempat normal dan ia sempat merasa baik-baik saja. Namun ternyata perasaan tersebut tidak sesuai dengan kenyataan. Setelah menjalani pemeriksaan ternyata diketahui dirinya mengidap Covid-19.

“Keesokan harinya saya merasa kembali normal. Saya kira itu hanya masalah kecil tentang suhu badan, tapi ternyata bukan. Saya berkata pada diri sendiri bahwa ini sebenarnya tidak seburuk itu, gejalanya, dan saya berkata lagi, ‘Saya merasa baik-baik saja, saya merasa lebih baik,” ungkapnya.

Kesembuhan Hudson-Odoi juga dikonfirmasi oleh pelatih Chelsea, Frank Lampard. Sang pelatih mengatakan pemain tersebut sudah pulih sepenuhnya. Kesembuhan ini tidak lepas dari perjuangan keras pemain tersebut.

“Dia sudah pulih sepenuhnya. Sejak minggu pertama dirinya sakit, saya terus berbicara dengannya dan itu adalah waktu yang sulit. Dia berjuang keras untuk sembuh,” beber Lampard.

Lebih lanjut pelatih asal Inggris itu mengatakan kesembuhan Hudson-Odoi disambut gembira oleh seluruh tim.

“Syukurlah dia tidak terlalu menderita dan kami semua senang dengan kondisinya sekarang,” pungkasnya.

Valdes: Bila Terlahir Kembali Tak Ingin Jadi Kiper

Nama besar Victor Valdes di jagad sepak bola dunia tak diragukan lagi. Ya, ia adalah salah satu kiper terbaik yang pernah ada. Pria asal Spanyol ini ikut andil dalam mengantar Barcelona meraih sejumlah gelar juara baik di pentas domestik maupun Eropa.

Tidak hanya itu Valdes juga menjadi langganan di timnas Spanyol pada masanya. Ia ikut andil mengantar Spanyol menjadi juara Piala Dunia 2010 dan Piala Eropa 2012.

Namun demikian bila memutar kembali roda waktu, mantan kiper Manchester United itu sebenarnya tidak ingin menjadi kiper. Saat ditanya bila terlahir kembali ingin menjadi apa, Valdes tegas mengatakan tidak ingin menjadi penjaga gawang.

“Jika aku terlahir kembali, aku takkan jadi kiper,” beber Valdes.

Lebih lanjut Valdes mengatakan tidak mudah menjadi kiper. Ia sampai harus membutuhkan banyak dukungan dan dorongan untuk bisa menjadi seorang kiper hebat.

“Itu bukanlah jalan yang mudah dan tidak memberiku ganjaran yang cukup atas penderitaan bertahun-tahun. Ada hari-hari di mana aku enggan berada di sana. Aku bermain karena mereka meyakinkanku semasa masih muda dan aku menerima jalan tersebut,” sambungnya.

Lebih dari itu secara pribadi Valdes tidak ingin mendapat tekanan. Ia tidak ingin mendapatkan pujian terlalu tinggi untuk apa yang diraih bukan karena perjuangan dan kerja kerasnya semata.

“Aku tak suka ketenaran. Aku tidak nyaman ketika mereka memberiku sanjungan yang teramat tinggi, apalagi karena itu bukanlah semata kontribusi diriku; sepakbola adalah sebuah permainan tim,” tegasnya.

Setelah menuntaskan kariernya sebagai pemain profesional, Valdes sempat mendapat kepercayaan untuk menangani tim muda Barcelona. Ia dipercaya menjadi pelatih Tim U-19 Barcelona. Namun demikian kariernya sebagai pelatih tamat pada tahun 2019 setelah Barcelona memecatnya dari jabatan tersebut.

“Pada hari Senin, Barcelona sudah memberitahu kepada Victor Valdes bahwa dia tidak lagi jadi pelatih Tim U-19A sekaligus pegawai klub ini,” ungkap pihak Barcelona terkait pemecatan tersebut.

Pemecatan tersebut tidak lain karena gagalnya ia memberikan prestasi kepada tim muda Barcelona. Posisinya pun digantikan oleh sosok yang sudah lama mengenal akademi Barcelona, La Masia.

Sementara itu ketika dimintai komentar terkait rumor transfer Neymar ke Barcelona, Valdes mengatakan dirinya cukup mengenal pemain tersebut.

“Apa yang bisa saya katakan pada anda mengenai Neymar? Saya menghabiskan waktu setahun dengannya dan dia selalu menonjol, itu merupakan suatu hal yang mesti anda apresiasi,” tandas Valdes.