Nottingham Forest, Pernah Juara Liga Champions Tapi Terpuruk di Pentas Domestik

Nottingham Forest  pernah menjadi salah satu klub yang disegani tidak hanya di pentas sepak bola Inggris, tetapi juga di pentas Eropa. Namun kejayaan tersebut sudah lama sirna.

Kini klub tersebut tak lagi terdengar gaungnya. Alih-alih berlaga di Liga Champions Eropa, klub tersebut pun terpuruk di pentas Liga Primer Inggris.

Sudah lama klub itu tidak bermain di liga utama yaitu Liga Primer Inggris. Meski demikian klub ini memiliki sejarah yang bagus di Liga Champions.

Nottingham Forest tercatat sudah 2 kali menjadi juara liga Champions Eropa. Gelar tersebut diraihnya secara berturut-turut pada tahun 1979 dan 1980. Menariknya, dua gelar tersebut diraih dalam dua kesempatan mencapai partai final. Artinya, klub tersebut tak pernah gagal di babak final.

Kesuksesan ini membuat klub tersebut sejajar dengan klub-klub Inggris lainnya. Dari segi pencapaian di pentas Liga Champuons Eropa, kesuksesan Nottingham lebih baik dari sejumlah klub yang kini masih bercokol dan menjadi langganan tampil di Liga Primer Inggris.

Salah satu klub dimaksud adalah Chelsea. Chelsea baru mengemas satu gelar Liga Champions dari 2 kali partai final yang telah dicapainya di liga Champions.

Di final pertamanya, Chelsea harus merelakan gelar juara liga Champions kepada Manchester United,. Chelsea kalah usai melewati drama adu penalti. Sedangkan di partai final keduanya, The Blues sukses menyabet trofi usai kalahkan juara Bundesliga saat itu yaitu Bayern Munchen. Kemenangan tersebut juga diraih melalui adu pinalti.

Klub Inggris lainnya yang pernah berjaya di pentas Liga Champions adalah Aston Villa. Klub ini baru saja promosi ke kasta teratas yakni Liga Primer Inggris musim 2019/2020 ini.

Aston Villa ternyata juga pernah menjuarai liga Champions meski hanya sekali masuk final. Kejadian tersebut terjadi pada tahun 1982. Kala itu Aston Villa sukses membawa pulang piala usai mengalahkan Bayern Munchen.

 

Selain Liverpool, Ini Klub Inggris yang Pernah Berjaya di Liga Champions Eropa

Liga Champions atau UEFA Champions League menjadi ajang yang paling bergengsi bagi klub-klub se-Eropa. Turnamen ini dulunya juga pernah dinamai Piala Champions. Sejak berubah nama menjadi Liga Champions, Real Madrid masih menjadi klub yang merajai dengan 13 gelar juara.

Dilansir dari goal.com, beberapa klub besar memang sering tampil di liga Champions, namun tak banyak klub raksasa yang jadi juara. Tidak terkecuali berlaku untuk tim-tim asal Liga Primer Inggris.

Liga Primer Inggris sendiri tercatat hanya memiliki 5 klub yang pernah merasakan manisnya menjadi kampiun Liga Champions.

Salah satunya adalah Liverpool. Klub berjuluk The Red ini memang menjadi klub tersukses dari Liga Inggris di sepanjang gelaran Liga Champions. Liverpool tercatat sudah 8 kali mencapai partai puncak Liga Champions dan berhasil membawa pulang 5 trofi juara.

Terakhir kali Liverpool menjadi juara pada tahun 2005. Saat itu Steven Gerrard dan kawan-kawan sukses mengalahkan tim asal Serie-A Italia yaitu AC Milan. Sedangkan pada musim lalu mereka juga sukses mencapai partai final namun harus kalah dari sang juara bertahan Real Madrid.

Teranyar, Liverpool menjadi kampiun di musim lalu. Performa impresif armada Jurgen Klopp membuat tim tersebut mampu berbicara banyak di ajang tersebut. Liverpool lolos hingga ke partai final dan sukses menaklukkan sesame klub Liga Primer Inggris, Tottenham Hotspur di partai pamungkas.

Selain Liverpool, ada juga Manchester United. Manchester United menjadi klub tersukses kedua dari Inggris di kancah Liga Champions. The Red Devils hingga saat ini telah mengoleksi 3 gelar trofi liga Champions.

Ketiga trofi tersebut diraih pada tahun 1968, 1999, dan 2008. Sebenarnya klub berjuluk Setan Merah ini bisa menyamai perolehan Liverpool. Namun 2 kali laga final yang dicapai pada tahun 2009 dan 2011, kedua-duanya harus sirna usai selalu klah dari Barcelona.

Dalam beberapa musim terakhir Setan Merah mengalami situasi sulit. Alih-alih berlaga di kompetisi teratas tersebut, United hanya mampu bersaing di turnamen kasta kedua yakni Liga Europa. Nasib serupa kembali terjadi pada musim ini.

Berapa Kali Ronaldo Gagal Eksekusi Penalti dalam Satu Dekade Terakhir?

Cristiano Ronaldo memang dikagumi banyak pecinta sepakbola karena kerja keras yang begitu luar biasa. Semenjak bermain bersama Manchester United hingga di Juventus saat ini, Cristiano Ronaldo memang dianggap menjadi pemain terdepan yang dipercaya klubnya, termasuk untuk melakukan eksekusi penalti setiap kali terjadi tendangan pinalti.

Banyak yang berasumsi jika Ronaldo adalah rajanya penalti. Namun data mengatakan jika Ronaldo menjadi pemain ketiga yang paling sering gagal mengeksekusi penalti dalam kurun satu dekade terakhir.

Total sudah 11 kali Cristiano Ronaldo melakukan kegagalan dari 79 peluang penalti yang ia dapat. Persentase kegagalan Ronaldo memang jauh lebih kecil dari Lionel Messi. Bintang Barcelona yang satu ini memang dinilai menjadi salah satu pemain terbaik di dunia bahkan dalam sejarah sepak bola dunia.Sselain kepiawaiannya mengolah si kulit bundar Lionel Messi juga dikenal sebagai sosok yang jenius dalam melakukan free kick jarak jauh.

Sayangnya kemampuan free kick spektakulernya tersebut tidak diimbangi dengan kematangannya dalam eksekusi tendangan penalti. Sering ditunjuk sebagai eksekutor, Lionel Messi telah melakukan 11 kali kegagalan dari 57 tendangan penalti yang ia dapat selama satu dekade terakhir.

Namun jika dibandingkan dengan beberapa pemain lainnya di liga top Eropa, Ronaldo masih dinilai belum cukup layak untuk diberi gelar rajanya pinalti.

Pemain lain yang patut disebut adalah Wayne Rooney. Pemain asal Inggris yang pernah menjadi bintang di Manchester United tersebut memang seringkali ditunjuk sebagai eksekutor pinalti.

Dalam kurun satu dekade terakhir Rooney telah melakukan 28 kali tendangan pinalti di mana 9 di antaranya gagal dieksekusi dengan baik.

Meskipun tidak begitu baik dalam mengeksekusi penalti namun Wayne Rooney masih menjadi pemain yang dipercaya tim yang dibelanya untuk mengeksekusi tendangan penalti. Saat ini dirinya bermain bersama Derby County di kasta kedua Liga Inggris.

Pemain lain adalah Antonio Di Natale. Natale pernah menjadi bintang di Serie-A ketika dirinya tampil gemilang bersama Udinese. Di Natale memang menjadi momok menakutkan saat berada di lini depan.

Namun sayangnya kemampuannya dalam mengeksekusi pinalti tidak begitu baik. Dala kurun satu dekade terakhir, Di Natale telah 9 kali gagal dalam mengeksekusi tendangan pinalti dari total 32 eksekusi pinalti yang dilakukannya.

Meski para pemain tersebut kerap gagal mengeksekusi penalti, mereka tetaplah pemain yang diandalkan masing-masing klub. Mereka tetaplah pemain besar dan penting yang sangat diperhitungkan lawan-lawannya. Selain itu nama mereka tetap terpatri dalam lembaran sejarah sepak bola sebagai pemain bintang.

 

Liverpool Tersingkir, Chelsea Bakal Juara Liga Champions Musim Ini?

Liga Champions memang menjadi Liga yang paling panas di daratan Eropa. Bahkan tak jarang berbagai mitos sehingga kutukan dikait-kaitkan dengan kejadian yang terjadi pada kompetisi ini. Banyak tim besar yang sukses menjadi juara. Namun tak sedikit juga tim-tim perkasa di liga domestik namun harus menyerah saat bersaing di pentas Eropa.

Dari banyaknya kutukan hingga mitos, sedikitnya ada 2 rumor yang menjadi perdebatan para pecinta bola  sejagad. Kutukan yang pertama memang sudah terjadi pada Liverpool. Di mana seperti yang dikutip dari dailymail.co.uk, yang menjadi juara Liga champion di musim sebelumnya pasti akan terhenti ketika berhadapan dengan Atletico Madrid di fase knockout kecuali dalam tim tersebut ada sosok Cristiano Ronaldo.

Kutukan yang terjadi pada Liverpool ini memang cukup aneh, pasalnya hanya Real Madrid dengan Cristiano Ronaldo-nya dan Juventus dengan Cristiano Ronaldo-nya yang mampu lolos ke fase berikutnya kala menghadapi Atletico Madrid di fase knockout.

Hal ini memang menimbulkan tanda tanya besar. Apalagi ketika Liverpool dikalahkan Atletico Madrid 2-3 di kandang sendiri pada saat itu skuad asuhan Jurgen klopp sempat unggul 2-0 sebelum akhirnya kalah comeback menjadi 2-3.

Kutukan lainnya yakni terkait tim mendapat larangan transfer. Sejak tahun 2014 tim yang mendapat hukuman atau sanksi dari UEFA berupa larangan transfer, pada musim baru yang dihadapi selalu mendapat gelar juara Liga champion.

Ini sudah terjadi pada Barcelona di tahun 2014 yang sukses menjadi juara Liga Champions di tahun 2015 serta Real Madrid pada tahun 2016 dan sukses menjadi juara Liga Champion di tahun 2017.

Dan kondisi yang sama saat ini sedang dialami Chelsea. Namun banyak pihak yang menilai jika Chelsea tidak akan mampu mempertahankan rumor tersebut. Pasalnya di babak 16 besar leg pertama lalu mereka harus dibantai Bayern Munchen 0-3 di kandang sendiri.

Hasil buruk ini jelas sangat sulit bagi Chelsea untuk mampu melaju ke babak perempat final dan mempertahankan rumor tersebut.

Memang dirasa cukup mistis, berbagai kemungkinan memang masih bisa terjadi. Hal inilah yang membuat Liga Champions semakin seru tiap musimnya.

Saat ini pertandingan leg kedua antara Chelsea kontra Bayern Munchen masih ditunda lantaran pandemi virus corona yang belum kunjung membaik. Kita berharap pandemi ini segera berakhir dan para pencinta sepakbola siap menantikan perjuangan Chelsea untuk mampu mempertahankan rumor tim yang mampu juara di Liga Champions setelah di musim sebelumnya mendapat hukuman larangan transfer pemain.

Cavani dan Messi Juga Sering Gagal Eksekusi Penalti

Dalam dunia sepak bola, segala kemungkinan memang bisa terjadi. Salah satunya adalah pelanggaran yang dilakukan pemain bertahan di area kotak penalti sehingga menghasilkan tendangan penalti bagi lawannya.

Meskipun pelanggaran ini menjadi salah satu keputusan terakhir yang terpaksa untuk dilakukan namun tak jarang bek terbaik dunia melakukan hal ini baik dengan disengaja maupun tidak disengaja. Bahkan di dalam suatu partai antara dua tim besar pun tendangan penalti kadangkala menjadi penentu kemenangan.

Dilansir dari skysports.com, bagi sosok eksekutor yang ditunjuk sebagai penendang penalti, tentu hal ini ini dianggap sebagai momen yang cukup menegangkan. Di satu sisi eksekutor tersebut memiliki harapan besar untuk menambah pundi-pundi golnya, di sisi lain eksekutor tersebut mendapat tekanan mental yang cukup besar apabila penaltinya gagal.

Bahkan tak jarang para pemain top dunia sering gagal dalam melakukan eksekusi penalti. Dua dari sekian banyak peman bintang yang kerap gagal dalam mengeksekusi tendangan dua belas pas adalah Edinson Cavani dan Lionel Messi.

Edinson Cavani menjadi pemain dengan catatan kegagalan penalti terbanyak hingga saat ini. Dalam kurun 1 dekade terakhir baik saat dirinya membela Napoli maupun Paris Saint-Germain (PSG), sosok striker jangkung dan besar tersebut total telah melakukan 13 kali kegagalan dalam mengeksekusi penalti dari total 50 peluang penalti yang dapat.

Meskipun demikian edinson Cavani masih dianggap sebagai sosok yang cukup ditakuti kiper lawan saat menjadi eksekutor karena tendangannya yang cukup keras.

Selain Cavani, ada nama Lionel Messi. Bintang Barcelona yang satu ini memang dinilai menjadi salah satu pemain terbaik di dunia bahkan dalam sejarah sepak bola dunia.Sselain kepiawaiannya mengolah si kulit bundar Lionel Messi juga dikenal sebagai sosok yang jenius dalam melakukan free kick jarak jauh.

Sayangnya kemampuan free kick spektakulernya tersebut tidak diimbangi dengan kematangannya dalam eksekusi tendangan penalti. Sering ditunjuk sebagai eksekutor, Lionel Messi telah melakukan 11 kali kegagalan dari 57 tendangan penalti yang ia dapat selama satu dekade terakhir.

Yang namanya pemain bintang pasti menjadi sosok yang paling sering dibicarakan setiap kali melakukan kesalahan. Meskipun catatannya tidak lebih buruk dari Edinson Cavani namun banyak yang menganggap jika Messi kurang begitu cakap dalam mengeksekusi penalti.

Dalam urusan penalti dirinya masih kalah telak dari rivalnya Cristiano Ronaldo yang memang dianggap sebagai pemain dengan spesialis tendangan penalti.

Manchester United Bakal Lakukan Kejutan di Bursa Transfer Mendatang

Setelah mengejutkan Liga Inggris dengan kedatangan Bruno Fernandes, Manchester United nampaknya masih memiliki rencana transfer yang dianggap menjadi sebuah kartu andalan untuk kembali mengguncang Liga Inggris.

Dilansir dari dailymail.co.uk skuad Setan Merah digadang-gadang kian dekat dengan punggawa muda borrusia Dortmund Jadon Sancho. Selain itu ada juga pemain berbakat muda lainnya yang diincar Solskjaer yakni Jack Grealish.

Realisasi transfer ini jelas menjadi hal yang sangat ditunggu-tunggu dan membuat para pecinta sepakbola makin penasaran.

Setelah seringkali mengotak-atik formasi, kini tampaknya Ole Gunnar Solskjaer telah nyaman dengan beberapa formasi pilihannya. Entah itu dengan memasang 4 pemain bertahan maupun 3 pemain bertahan. Yang jelas pola permainan mereka saat ini dinilai makin berkembang dan kian mematikan. Beberapa laga terakhir bahkan skuad setan merah sukses menjaga rekor unbeaten mereka hingga 10 pertandingan.

Standard.co.uk melansir jika Manchester United merupakan salah satu klub dengan academy yang dianggap berhasil. Bahkan beberapa pemain akademinya, kini menjelma menjadi starter skuad utama yang cukup menampilkan performa yang menjanjikan. Sebut saja Marcus Rashford dan Mason Greenwood.

Belum lagi sosok seperti Daniel James yang bermain all out seolah-olah tidak merasakan lelah. di tambah amunisi gelandang muda seperti Scott McTominay dan Andreas Pereira. Setelah hampir semusim lebih digembleng di bawah asuhan Solskjaer nampaknya mereka sudah dianggap matang untuk mampu membawa Manchester United bangkit kembali.

Di pentas domestik, Setan Merah tengah berjuang untuk bercokol di papan atas. Setelah Liga Primer Inggris dibekukan karena merebaknya wabah corona, posisi Setan Merah berada di urutan kelima dengan raihan total 45 poin dari 29 pertandingan. Setan Merah berjarak tiga poin dari Chelsea di urutan keempat.

Seperti yang dikutip dari dailymail.co.uk, saat ini tim yang dianggap sebagai klub tersukses dari jagat Inggris tersebut mulai berbenah. Tak tanggung-tanggung berbagai keputusan transfer yang dinilai cukup krusial sekolah memberikan euforia baru bagi para fans di Old Trafford, khususnya saat kedatangan Bruno Fernandes dan Odion Ighalo.

Apakah Setan Merah akan mampu bangkit musim depan? Patut diakui tim-tim lain di Liga Primer Inggris pun terus berbenah dan tak mau ketinggalan untuk bersaing menjadi klub papan atas. Apalagi ada sejumlah klub yang dikenal cukup royal berbelanja di setiap bursa transfer, salah satunya adalah Manchester City. Tentu situasi ini membuat tingkat persaingan di Liga Primer Inggris akan tetap berlangsung ketat, sama seperti musim-musim sebelumnya.

Mungkinkah Manchester United Panen Gelar di Musim Depan?

Dalam beberapa musim terakhir Manchester United memang dinilai tampil cukup mengecewakan. Meskipun sering menang menghadapi tim-tim besar namun skuad setan merah justru dengan mudah kehilangan poin saat menghadapi tim tim papan tengah ke bawah. Kegagalannya untuk tampil di Liga Champions musim ini menjadi bukti jika mu benar-benar dalam kondisi terpuruk.

Di pentas domestik, Setan Merah tengah berjuang untuk bercokol di papan atas. Setelah Liga Primer Inggris dibekukan karena merebaknya wabah corona, posisi Setan Merah berada di urutan kelima dengan raihan total 45 poin dari 29 pertandingan. Setan Merah berjarak tiga poin dari Chelsea di urutan keempat.

Seperti yang dikutip dari dailymail.co.uk, saat ini tim yang dianggap sebagai klub tersukses dari jagat Inggris tersebut mulai berbenah. Tak tanggung-tanggung berbagai keputusan transfer yang dinilai cukup krusial sekolah memberikan euforia baru bagi para fans di Old Trafford, khususnya saat kedatangan Bruno Fernandes dan Odion Ighalo.

Dari berbagai kemungkinan yang akan datang tersebut, ada sejumlah alasan mengapa Setan Merah bakal panen gelar di musim depan. Berikut kalimat alasan tersebut.

Pertama, pengalaman yang sudah cukup bagi seorang Ole Gunnar Solskjaer.

Pelatih sekaligus legenda Manchester United ole gunnar solskjaer memang mengalami masa-masa berat saat dirinya dipermainkan sebagai pelatih tetap mu. Semenjak masa itu Solskjaer nampak kesulitan untuk memenangi laga yang dihadapi. Bahkan di musim pertamanya Manchester United harus puasa gelar.

Namun hal tersebut nampaknya sudah cukup bagi Solskjaer untuk memulai masa masa baru kebangkitannya bersama mu. Berbagai pengalaman di banyak kompetisi menjadi modal besar untuk evaluasi besar-besaran di musim mendatang. Kematangan dan pengalaman yang sudah didapatnya selama ini diyakini menjadi awal kebangkitan mu untuk mampu meraih banyak gelar di musim depan

Kedua, kematangan lini tengah usai datangnya Bruno Fernandes.

Semenjak Bruno Fernandes bergabung bersama MU, tak sedikit yang mengatakan jika Lini Tengah MU semakin kompak dan bermain apik satu sama lain. Fred yang nampak kurang begitu menonjol di awal musim ini menjadi gelandang yang seringkali mengobrak-abrik pertahanan lawan untuk menciptakan peluang. Begitu juga Nemanja Matic yang perannya sangat sentral di posisi gelandang bertahan.

Memang efek dari adanya Bruno Fernandes membuat para fans MU optimis menatap musim depan. Apalagi jika Paul Pogba sudah dapat bermain kembali, bukan tidak mungkin duet Pogba dan Bruno menjadi andalan baru MU yang bikin lawan ketar ketir.

Setan Merah Menang Telak di 16 Besar Liga Europa

Manchester United berhasil memetik kemenangan telak di leg pertama babak 16 besar Liga Europa. Menghadapi LASK Linz di Stadion Linzer pada Jumat, 13 Maret 2020 dini hari WIB, Setan Merah menang dengan skor telak, 5-0.

Lima gol tim tamu dicetak oleh Odion Ighalo di menit ke-28, Daniel James di menit ke-58, Juan Mata di menit ke-82, Mason Greenwood di menit ke-90+1, dan Andreas Pareira di menit ke-90+3.

Kemenangan ini menjadi modal penting bagi Setan Merah untuk melaju ke babak selanjutnya. Tidak mudah bagi klub Austria itu untuk bersaing dengan United.

Di laga ini United mampu menguasai jalannya pertandingan dengan penguasaan bola lebih dari 55 persen. Selain itu tim tamu juga memiliki peluang lebih banyak, dengan melepaskan total 22 tembakan dengan 10 di antaranya mengenai sasaran.

United langsung menekan sejak menit awal. Namun demikian tidak mudah bagi tuan rumah untuk mencetak gol. United baru bisa memecah kebuntuan di pertengahan laga. Bermula dari umpan Bruno Fernandes, Ighalo melepaskan speakan terarah yang mengarah ke pojok kanan atas gawang tuan rumah.

Gol ini menjadi pembeda di babak pertama. Performa United semakin meningkat di babak kedua. Buktinya tim tamu mampu mencetak empat gol.

Pelatih United, Ole Gunnar Solskjaer mengaku senang dengan hasil tersebut. Ia pun berharap timnya terus melaju di ajang tersebut.

“Ini luar biasa, tetapi kita harus terus melaju. Ada pertandingan besar pada hari Minggu, kami harus bertandang ke Tottenham,” beber Solskjaer.

Lebih lanjut pelatih asal Norwegia itu mengatakan dirinya sengaja melakukan perubahan di laga tersebut. Hal ini penting untuk menjaga tingkat kebugaran para pemain.

“Laga itu menjadi alasan kami utama kami melakukan beberapa perubahan di susunan pemain. Anda tidak mungkin bermain di setiap pertandingan,” sambungnya.

“Namun ini bukan sekedar tentang bermain, ini adalah soal membantu tim meraih kemenangan. Maka dari itu, Anda harus tetap bangga jika bermain 60, 70, 80 atau bahkan hanya 10 menit,” sambungnya.

Di laga ini United tidak tampil didampingi para pendukungnya karena laga berlangsung tertutup. Solskjaer mengatakan para pemain diharapkan bisa beradaptasi dengan situasi tersebut.

“Kami hanya harus mengatasinya dan menciptakan atmosfer sendiri. Memastikan kami tidak terganggu oleh itu. Bermain tandang selalu lebih baik dengan fans. Begitulah seharusnya sepakbola dimainkan,” tegasnya.

Susunan pemain LASK Linz versus Manchester United:

LASK Linz (3-4-3): 1-Alexander Schlager (GK); 26-Reinhold Ranftl, (C) 18-GErnot Trauner, 15-Christian Ramsebner; 7-Rene Renner, 8-Peter Michorl, 25-James Holland (23-Stefan Haudum 76′), 11-Dominik Reiter; Dominik Frieser (14-Husein Balic 71′), 9-Klauss, 20-Samuel Tetteh (29-Marko Raguz 61′).

Pelatih: Valerien Ismael

Manchester United (4-2-3-1): 22-Sergio Romero (GK); 53-Brandon Williams, 3-Eric Bailly, (C) 5-Harry Maguire, 23-Luke Shaw; 39-Scott McTominay, 17-Fred; 8-Juan Mata, 18-Bruno Fernandes (15-Anfreas Pereira 78′), 21-Daniel James (44-Tahith Chong 71′); 26- Odion Ighalo (26-Mason Greenwood 85′)

Pelatih: Ole Gunna Solskjaer.

Arema Waspadai Pemain PSIS Semarang

Duel menarik akan tersaji di lanjutan pertandingan Liga 1 2020 antara PSIS Semarang menghadpai Arema FC. Laga ini akan digelar di Stadion Madya, Magelang pada Sabtu, 14 Maret 2020 petang WIB. Kick off pertandingan dijadwalkan pada pukul 15.30 WIB.

Kedua tim tentu mengincar kemenangan di laga ini. Pihak Arema mengakui PSIS adalah tim kuat yang patut diwaspadai. Sebagaimana dikatakan pelatih Arema, Mario Gomez, PSIS telah menunjukkan kualitasnya dengan memetik kemenangan di laga tandang pekan lalu.

“PSIS Semarang tim yang kuat, buktinya mereka bisa menang di kandang lawan pada laga pekan kemarin. Tentu menjamu Arema mereka ingin menang di kandang sendiri,” beber Gomez.

Lebih spesifik pelatih asing itu mengatakan PSIS memiliki beberapa pemain berbahaya. Salah satunya adalah Bruno Silva. Menurut Gomez, Bruno adalah striker bagus.

“Saya ingat, PSIS Semarang punya Bruno Silva, dia striker yang bagus. Tentunya, ini merupakan pertandingan yang berat bagi kami, seperti laga melawan PS TIRA-Persikabo lalu,” sambungnya.

Di laga ini Arema tentu harus bekerja keras. Apalagi mereka memiliki modal bagus jelang laga ini. Tim berjuluk Singo Edan itu justru memetik hasil minor di pekan sebelummya. Mereka kalah di kandang sendiri.

Meski begitu Gomez yakin timnya mampu menampilkan performa terbaik di laga ini. Mereka pun yakin mampu memenangi laga ini dan membawa pulang poin sempurna.

“Saya tahu ini sulit, tapi kami akan mencoba untuk meraih kemenangan. Dalam sepak bola selalu ada peluang. Kami ingin selalu menang ketika Arema bertanding di mana pun, kadang bisa terjadi, kadang juga tidak,” tegas pelatih asal Argentina berusia 63 tahun itu.

5 Pertandingan Terakhir PSIS Semarang

(7/3/2020) Persela Lamongan 2-3 PSIS Semarang

(1/3/2020) Persipura Jayapura 2-0 PSIS Semarang

(21/12/2019) PSIS Semarang 2-3 Bhayangkara FC

(17/12/2019) PSIS Semarang 2-3 Madura United

(13/12/2019) PSIS Semarang 2-0 Semen Padang

5 Pertandingan Terakhir Arema FC

(8/3/2020) Arema FC 1-2 Persib Bandung

(2/3/2020) Tira Persikabo 0-2 Arema FC

(22/12/2019) Barito Putera 3-0 Arema FC

(16/12/2019) Arema FC 3-2 Bali United

(12/12/2019) Persebaya Surabaya 4-1 Arema FC

Perkiraan starting line up PSIS Semarang versus Arema FC:

PSIS Semarang (4-3-3): Jandia Eka Putra; Muhammad Rio Saputra, Wallace Costa Alves, Alfeandra Dewangga, Finky Pasamba; Komarodin, Flavio Beck Junior, Septian David Maulana; Hari Nur Yulianto, Bruno Silva, Jonathan Cantillana

Pelatih: Dragan Đukanović

Arema FC (4-4-2): Teguh Amiruddin; Syaiful Indra Cahya, Bagas Adi, Matias Malvino, Johan Ahmar Farizi; Hendro Siswanto, Oh Inkyun, Dedi Santoso, Feby Eja Putra; Elias Alderete, Kushendya Hari Yudo.

Pelatih: Mario Gomez

Klopp Sebut Liverpool Siap Jamu Atletico

Liverpool akan menjalani duel menentukan di leg kedua babak 16 besar Liga Champions Eropa. Pertandingan ini akan digelar di Stadion Anfield yang merupakan markas sendiri pada Kamis, 12 Maret 2020 dini hari WIB.

Di laga ini Liverpool akan beradu dengan Atletico Madrid. Di leg pertama di kandang Atletico, Liverpool menyerah satu gol tanpa balas. Di leg kedua ini, bila ingin lolos, The Reds wajib menang dengan selisih lebih dari satu gol.

Pelatih Liverpool mengatakan pihaknya siap menjamu Los Rojiblancos. Pelatih asal Jerman itu pun menegaskan sudah menyiapkan strategi tersendiri untuk menghadapi klub La Liga Spanyol itu.

“Kami membutuhkan kecepatan yang lebih tinggi di momen yang berbeda, kami membutuhkan pergantian yang lebih baik di momen yang berbeda, kami membutuhkan sepak bola yang lebih berani di momen yang berbeda, kami perlu bermain di sekitar formasi, kami perlu bermain di belakang formasi, kami perlu bermain melalui celah, itu semua jelas. Jika permainan Anda dapat diprediksi, Atletico bisa bertahan dari serangan Anda selama enam bulan ke depan tanpa istirahat,” beber Klopp.

Lebih lanjut mantan pelatih Borussia Dortmund itu mengatakan timnya harus mempersiapkan diri untuk menghindari lawan bermain bertahan.

“Tetapi jika Anda mempersiapkan situasi di mana tidak mudah untuk bertahan, semakin sering Anda berada dalam situasi di mana Anda bisa mencetak gol – dan itulah yang harus kita lakukan,” sambungnya.

Klopp menegaskan pentingnya laga tersebut membuat mereka harus tampil maksimal. Penting bagi mereka untuk belajar dari kekalahan di laga pertama.

“Besok malam adalah pertandingan di mana kami harus menunjukkan bahwa kami benar-benar belajar dari pertandingan pertama dan bahwa kami benar-benar ingin lolos dengan mengetahui bahwa ada kemungkinan kami tidak bisa lolos. Karena jika Anda takut bermain menyerang, Anda tidak bisa bermain dengan kebebasan dan kami membutuhkan kebebasan ini,” bebernya lagi.

Lebih lanjut Klopp mengatakan para pemain harus tampil tanpa beban. Ia meminta para pemain Liverpool untuk bisa menangkal serangan balik cepat yang berpotensi dilakukan lawan.

“Kami perlu bermain dengan bebas mengetahui bahwa mereka sangat bagus dalam bertahan. Menangkal serangan balik mereka, dapatkan kembali bola – cara terbaik untuk bertahan dari serangan balik adalah menahan mereka dengan counter-press, menangkan bola kembali, gunakan ruang yang mereka buat pada saat itu, semua hal semacam ini,” ungkapnya.

Sementara itu bek Liverpool, Virgil Van Dijk mengatakan timnya siap menghadapi laga ini. Timnya siap untuk menghadapi berbagai tekanan.

“Tekanannya selalu ada. Yang terjadi adalah, ketika Anda tak mendapatkan hasil-hasil bagus, yang mana kami tak terlalu sering mendapatkannya, dunia luar membicarakannya seolah-olah kami ada di pertarungan degradasi,” tegas bek asal Belanda itu.